Menyiasati Perpisahan "Old Wergu Wetan"
  • Beranda
  • .
  • Menyiasati Perpisahan “Old Wergu Wetan”
  • .

Menyiasati Perpisahan “Old Wergu Wetan”

Menyiasati Perpisahan “Old Wergu Wetan”

Menyiasati Perpisahan "Old Wergu Wetan"

Dering notifikasi pembayaran QRIS berhasil. Malam ini (9/4), tepat setelah akun media sosial Persiku mengunggah informasi penjualan tiket laga Persiku kontra PSIS Semarang, satu kode batang telah kuamankan. Bekal utama untuk dipindai penjaga loket sore (11/4) besok. 

 

Benar bahwa kali ini aku memutuskan membeli tiket tepat waktu. Momen yang berbeda setelah beberapa laga sebelumnya, kupikir daya tarik penonton lebih sering senggang di Wergu Wetan, bahkan dengan membeli tiket beberapa jam saja sebelum kick-off, mungkin masih tetap kebagian.

 

Aku ingat betul, terakhir harus bersiap di layar gawai dan me-refresh berulang laman penjualan tiket adalah laga kontra PSS Sleman di awal musim. Dan kurasa itu kembali terjadi kali ini, saat di mana aku harus mengamankan tiket sedini mungkin. Dan benar saja, belum genap 24 jam penjualan tiket dibuka, seluruh tribun sudah dinyatakan sold out.

 

Semestinya, ini adalah situasi yang lumrah terjadi saat pertandingan akhir pekan. Namun tak bisa dipungkiri, sejauh ini laga kandang Persiku berlangsung, hampir sangat jarang tiket terjual habis. 

 

Aku mengakui bahwa lawan kali ini adalah tim besar yang punya sejarah panjang, terlebih daerah asalnya yang terbilang cukup dekat dengan Kudus, dan jarak poin klasemen yang bersaing ketat dengan Persiku. Hal-hal tersebut murni dan konkrit akan menambah gengsi pertandingan, dan mungkin juga menambah daya tarik penonton. Tapi bagiku, ada hal lain yang lebih jauh dari itu.

 

Laga hari ini adalah laga yang istimewa. Meski semua laga juga kusematkan sebagai “Misi Istimewa”, tapi ada yang beda dengan laga ini, yaitu sebuah perpisahan.

 

Perpisahan dengan wajah lama Stadion Wergu Wetan, dengan segala bentuknya yang sering kita cemooh sebagai “madrasah”, namun diam-diam kita rawat sebagai rumah. Sebuah tempat yang akan segera berganti rupa, meninggalkan wajah lamanya yang penuh cerita.

 

Tidak dipungkiri, aku tumbuh besar bersama bangunan ini. Di titik ini, ada kenangan yang membawaku kembali pada waktu-waktu saat menikmati sore di akhir pekan bersama kawan. Saat di mana aku melintasi rerumputan belukar dari pintu utara, menjelajah barisan di atas beton retak yang ditumbuhi lumut, hingga merelakan berdiri, berdesakan, menghadap sorot matahari, untuk memandang penggawa di lapangan yang bertarung meski terhalang pagar besi berkarat yang cukup tinggi. Momen masa lalu di tribun timur, di bawah papan skor besar yang identik dengan tulisan “Pemkab Kudus”.

 

Sebelum rencana renovasi tahun ini, Wergu Wetan telah melewati sebuah perombakan yang hanya menyisakan sesak belaka. Seperti yang sama-sama wujudnya kita tahu sekarang, itulah hasil renovasi yang sejatinya tak pernah kita harapkan. Namun, seburuk apa pun perubahan itu, langkah kaki tetap membawaku datang ke tempat ini.

 

Bagiku, Wergu Wetan tak hanya tentang bangunan tempat laga dipertunjukkan. Ia adalah rumah kedua. Tempat menumpahkan segala rasa, dari lelah, amarah, hingga bahagia. Di sana pula aku dipertemukan dengan orang-orang yang mungkin tak kukenal sebelumnya, tapi dipersatukan oleh satu nama yang sama: Persiku Kudus, Macan Muria.

 

Maka laga ini terasa berbeda. Bukan hanya tentang 90 menit di atas lapangan dan lawannya, tapi tentang mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa pada sebuah tempat yang telah menuliskan begitu banyak cerita.

 

Stadion Wergu Wetan mungkin akan berubah muka, tapi kenangan yang terjadi akan selalu tinggal di sini. Dan besok sore, saat peluit panjang dibunyikan, mungkin yang berakhir bukan hanya pertandingan, tapi juga satu bab kecil dari hidup kami di rumah yang selama ini kami sebut: Stadion Wergu Wetan.

 

 

Make a Comment

Your email address will not be published. Required field are marked*